Sabtu, 17 Oktober 2020

MTQN XXVII: BUKTI TRADISI MENULIS DI SUMATERA UTARA MASIH KUAT

 

Bagus Ramadi, MH
Penyuluh Agama Islam Kec. Sawit Seberang, Langkat


Peserta cabang Musabaqah Makalah Al-Qur’an (MMQ) kafilah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan dominasinya setelah peserta putra meraih juara 2 dan peserta putri meraih juara 3 pada ajang MTQN XXVII Tahun 2018 di Medan.

Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional yang ke 27 Tahun 2018 di Provinsi Sumatera Utara telah berakhir dan resmi ditutup oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak Drs, H. Yusuf Kalla pada jum’at malam (12/10) yang sebelumnya dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Ir. Joko Widodo. Penutupan itu menandakan telah selesai seluruh rangkaian acara MTQN yang dilaksanakan di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Pengumuman pemenang juga telah dibacakan oleh ketua Dewan Hakim di sela-sela acara penutupan MTQN sembari melihat hasil akhir semua cabang yang di musabaqahkan pada event dua tahunan ini.

Event dua tahunan ini menyisakan kesan dan pesan tersendiri bagi Sumatera Utara, terkhusus para peserta dari kafilah Provinsi Sumatera Utara. Bagaimana tidak, ini merupakan dua kalinya Provinsi Sumatera Utara menjadi tuan rumah MTQ Nasional setelah 47 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1971 di Stadion Teladan Medan yang saat itu Sumatera Utara berhasil menjadi juara umum. Bukan maksud penulis membandingkan dengan saat itu, karena apabila dilihat dari cabang-cabang yang dimusabaqahkan telah banyak penambahan, tetapi justru saat ini Sumatera Utara mulai menunjukkan semangat untuk bangkit setelah sekian lama tidak pernah masuk dalam daftar 5 besar kafilah terbanyak yang meraih juara. Dapat dikatakan hasil yang diraih saat ini merupakan buah dari perjuangan panjang selama ini yang akhirnya menempatkan Kafilah Provinsi Sumatera Utara pada posisi ke tiga besar dalam daftra Provinsi terbanyak mendapatkan juara/medali.

MMQ Cabang Bagi Akademisi

Penulis melihat ada beberapa cabang MTQN yang menarik untuk di support, salah satunya cabang Musabaqah Makalah Al-Qur’an (MMQ). Cabang ini merupakan salah satu cabang yang kurang diminati dan kurang menarik perhatian, pasalnya MMQ cabang yang kurang diprioritaskan dan diunggulkan untuk menjadi juara. Memang, selama ini MMQ termasuk cabang yang minim dengan prestasi namun pada MTQN kali ini para peserta yang selalu disupport oleh official mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya. Alhasil, Peserta cabang Musabaqah Makalah Al-Qur’an (MMQ) kafilah Sumatera Utara menunjukkan dominasinya setelah peserta putra meraih juara 2 dan peserta putri meraih juara 3 pada ajang MTQN XXVII Tahun 2018 di Medan.

Kebanyakan peserta MMQ adalah bukan peserta yang murni menekuni penulisan makalah Al-Qur’an yang langsung dibina oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) baik di kabupaten/kota dan provinsi. Peserta MMQ banyak yang “pelarian” dari cabang lain dikarenakan faktor usia dan lain sebagainya. Termasuk yang banyak beralih ke cabang MMQ diantaranya cabang Syarhil Qur’an dan Fahmil Qur’an, kedua cabang ini tanpa sengaja mendorong orang-orang yang sudah melebihi usia dikedua cabang itu akan mencari pelarian di cabang lain, pilihan yang berpotensi adalah MMQ. Secara spesifik memang MMQ tidak mengharuskan peserta memiliki kemampuan khusus tetapi cabang ini menuntut para peserta memiliki nalar ilmiah yang baik, berpikir sistematis dan cenderung orang yang sedang menggeluti dunia akademik. Maka, tidak mengherankan semua peserta cabang MMQ adalah mahasiswa yang terdaftar pada perguruan tinggi tertentu baik negeri maupun swasta, bukan siswa/i sekolah ataupun murid-murid di pesantren. Mengapa demikian? Jawaban singkatnya adalah mereka belum memiliki nalar keilmuan yang baik dan belum mampu untuk berpikir sistematis dan terarah.

Menarik untuk diperhatikan, MMQ bukan cabang yang mengharuskan pesertanya seorang qari/ah maupun hafidz/ah tetapi harus mempunyai kemampuan melihat teks ayat yang sesuai dengan konteks kekinian. Peserta MMQ diharuskan mampu menguraikan isi kandungan Al-Qur’an yang disesuaikan dengan kondisi atau permasalahan yang muncul saat ini dengan mengexplor ayat dengan melihat dari penafsiran-penafsiran yang ada sebelumnya. Meskipun tidak mengharuskan pesertanya qari dan hafidz, tetapi kemampuan analisis ayat harus menjadi modal besar para peserta untuk bisa mengidentifikasi problem dan menemukan problem sloving. Hal seperti ini hanya dimiliki oleh mahasiswa yang notabenenya merupakan masyarakat akademisi yang mampu berpikir kritis dan sistematis terutama dalam melihat sebuah permasalahan untuk menemukan sulusinya.

Tampaknya cabang MMQ hanya mampu mengharapkan pembinaan dari perguruan tinggi terhadap para pesertanya untuk menggalih berbagai kemampuan menulis dan membaca, agar mampu menghasilkan sebuah karya ilmiah. Kombinasi keilmiahan tersebut harus diselaraskan dengan kemampuan mempelajari isi dan kandungan Al-Qur’an agar dapat menghasilkan sebuah karya ilmiah yang berbasis Al-Qur’an. Untuk itu, perguruan tinggi atau kampus yang berbasis Islam yang banyak mengajarkan Al-Qur’an merupakan harapan besar cabang MMQ untuk terus ada dan memiliki regenerasi yang berkelanjutan untuk pengembangan kajian-kajian Al-Qur’an sesuai dengan konteks kekinian.

MMQ Sarana Tumbuhkan Minat Menulis

Prestasi yang diraih peserta cabang MMQ putra dan putri Sumut bukti tradisi menulis dan tradisi intlektual di Sumatera Utara masih kuat. Hal ini buka hanya isapan jempol belaka karena dapat dilihat dari MTQN yang telah berlalu. Jika dilihat dari segi pengalaman, peserta MMQ Sumut yang tampil bukan peserta yang diunggulkan, keduanya (peserta putra dan putri) merupakan peserta yang baru kali ini tampil dalam event MTQ Nasional artinya peserta yang baru mengikuti MTQ Nasional. jika dibandingkan dengan peserta dari kafilah lain yang memang sudah berpengalaman dan hampir dapat dikatakan veterannya MMQ karena sering meraih juara MTQN di tahun-tahun sebelumnya, tetapi peserta kafilah Sumut justru baru pertamanya tampil di ajang bergengsi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pemuda-pemudi Sumut memiliki potensi yang mumpuni dalam hal karya tulis ilmiah yang berbasis Alqur’an.

Jika di telusuri, memang banyak mahasiswa asal Sumatera Utara yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di seluruh Indonesia memiliki potensi yang mumpuni dan prestasi yang baik. Hal ini, penulis amati dari berbagai ajang dan event antar perguruan tinggi, dimana selalu ada mahasiswa berasal dari Sumatera Utara yang meraih prestasi di event tersebut, misalnya perlombaan debat nasional, LKTI dan lain sebagainya. Untuk itu, kita harus optimis bahwa girah menulis di Sumatera Utara akan tumbuh dan berkembang melalui cabang MMQ ini dan event lain yang bertujuan mengeksplor kemampuan menulis baik di bidang Alqur’an maupun umum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar