Minggu, 10 Februari 2019

MENUMBUHKAN KESALEHAN SPRITUAL DAN KESALEHAN SOSIAL SEBAGAI UPAYA MERAWAT KEBERAGAMAN DI INDONESIA


Bagus Ramadi
(Mahasiswa Magister Hukum Keluarga FSH UIN SU)
Kita tentu menyadari perkembangan realitas beragama di Indonesia saat ini semakin menunjukkan “persinggungan” antara satu agama dengan agama lain. Apalagi pasca terjadinya ledakan bom di tiga gereja di Surabaya yang diduga dilakukan satu keluarga “muslim” dan penangkapan beberapa pelaku terduga teroris, termasuk yang paling disorot mediayaitu salah satu pimpinan pondok pesantren. Tanpa disadari, hal ini menunjukkan koherensi antara kedua peristiwa di atas, yang semakin menebalkan stereotif masyarakat bahwa Islam mengajarkan radikalisme dan terorisme, dengan dalih beberapa pelaku pengeboman (teroris)dilakukan oleh orang “Islam” yang ditambah dengan berbagai pemberitaan media yang menyudutkan Islam. Anggapan salah seperti ini ditakutkan akan menyebar ke dalam sendi kehidupan masyarakat yang dapat memicu sikap saling curiga sesama penganut agama danmemunculkan kegaduhan antarumat beragama yang dapat menggerus perdamaian yang selama ini terawat dengan baik.
Apabila kita telusuri semua ajaran agama, baik Islam maupun non Islamtidak ada yang mengajarkan sikap permusuhan dan saling menghancurkan tanpa alasan yang jelas. Dalam Islam, seorang muslim harus bisa menjadi rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam), memberi manfaat, menjadi pelindung dan penolong orang lain terutama orang yang sedang dalam kondisi lemah dan kesulitan. Islam sama sekali tidak mengajarkan permusuhan, radikalisme dan intoleransi. Justru sebaliknya Islam selalu mengajarkan menjaga kedamaian, memelihara kerukunan danmendorong sikap saling mengenal meskipun berbeda suku, agama maupun ras. Sebagaimana Firman Allah Swtdalam surat al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat: 13)
Dalam ayat tersebut jelas, bahwa Allah Swtmenciptakan manusia dalam bentuk yang berbeda-beda (baik berbeda bangsa, suku dan ras), dan menghimbau manusia untuk saling mengenal,berinteraksi, saling bekerja sama untuk menciptakan perdamaian dan merawat kerukunanantarumat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu perintah perdamaian ini harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan keimanan kepada Allah Swt Tuhan yang Maha Esa.
Poin penting yang dapat kita ambil ibrah-nya dari ayat di atas adalah bahwa manusia secara umum dan masyarakat Indonesia secara khusus harus memiliki dua sikap luhur yang melekat dalam dirinya yaitu kesalehan spritual dan kesalehan sosial dan menjadi kunci dalam merawat keberagaman di Indonesia.
Kesalehan spritual muncul dalam pemahaman agama yang fundamental
Kesalehan spritual dapat kita lihat dari pemahaman terhadap nilai-nilai agama yang dianutnya secara kaffah, total dan menyeluruh. Pemahaman seperti ini akan membawa manusia pada aspek kemurnian tauhid yaitu meng-Esakan Allah Swt yang tercermin dalam aktivitas ibadah yang dilakukan. Karenanya beragama bukan suatu candaan, diamalkan hanya ketika butuh atau ketika dalam kesulitan tetapi beragama itu komitmen dengan diri dan Allah Swt sebagai wujud ketaatan sebagai hamba yang selalu bergantung dengan-Nya. Untuk itu Allah Swt memerintahkan orang beriman agar secara sadar dan penuh keyakinan untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah. Sebagaimana terdapat dalam firman-Nya berikut:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 208).
Dalam ayat tersebut, dapat dipahami bahwa beragama harus dilakukan secara total, mencakup semua aspek dalam agama. Karena itu kita tidak bisa memahami dan melaksanakan ajaran agama dengan sesuka hati tanpa mempelajarinya secara mendalam. Pemahaman, sikap dan tindakan kita harus sejalan dengan ajaran agama itu sendiri, sehingga tidak akan ada pemahaman yang menyimpang dari aturan agama yang sesungguhnya dan tidak akan menyalahkan orang lain yang berbeda pemahaman.
Salah satu bentuk pemahaman seseorang terhadap agamanya bisa dilihat dari kesesuaian ibadah yang dilakukan dengan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman keagamaan yang utuh akan mendorongnya bertingkah laku sesuai dengan kadar keimanan dan ketaatannya. Selain itu memunculkan sikap toleransi dan menjalin hubungan baik dengan siapa pun. Karena implikasi dari hubungan baik dengan Allah (hablum minallah) adalah menjaga hubungan baik dengan manusia (hablum minannas).
Nilai-nilai agama menjadi modal penting dalam mempererat persatuan dan kesatuan serta menjalin ukhuwah sesama umat beragama dalam bingkai bernegara. Karena sejatinya dengan modal pemahaman agama yang benar, kaffah, komprehensif dan tidak parsial akan mengarahkan pada sikap yang mencerahkan, mendamaikan dan membebaskan manusia dari sikap kerdil dalam beragama, fanatisme buta dan menganggap diri dan kelompoknya saja yang paling benar.
Kesalehan Sosial Terbentuk dari Pemahaman Agama yang Baik
Sikap yang paling dianjurkan agama adalah al-ihsan kepada siapa pun. Islam selalu mengajarkan untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap sesama, meskipun berbeda agama dan keyakinan. Karena itu, Rasulullah Saw di utus Allah hadir di muka bumi untuk menjadi tauladan dalam berbuat baik kepada orang lain tanpa terkecuali. Selama kebaikan itu tidak menjadikan kita jauh dari agama dan mengingkari adanya Allah Swt.
Islam mengajarkan bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Hal ini menjadi dasar bagi setiap orang untuk senantiasa berbuat baik kepada siapa pun agar dapat menebar kemanfaatan. Untuk itu tidak boleh ada permusuhan dan konflik yang mengatasnamakan agama dan keyakinan tertentu, karena pada dasarnya tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan dan konflik dalam kehidupan manusia. Untuk itu perlunya setiap orang memiliki sikap yang baik terhadap sesama agar mengasah kesalehan sosial dalam diri setiap umat beragama.
Kesalehan sosial ini akan muncul dari orang-orang yang berpaham agama yang baik, karena pada dasarnya agama hadir di dunia sebagai pengontrol hubungan manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan sesamanya. Tidak ada agama yang lahir dengan motif untuk memecah belah umat manusia agar saling bermusuhan dan saling menebar kebencian. Justru sebaliknya, agama hadir untuk mengatur tatanan hidup umat manusia agar saling berinteraksi dan bekerjasama antara satu dengan yang lain dalam mewujudkan tata kelola kehidupan yang damai dan harmonis dalam bingkai bernegara.
Oleh karenanya, kesalehan sosial harus ditanamkan dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari dan diajarkan kepada anak-anak sebagai generasi mendatang yang akan merawat perdamaian dalam bernegara. Perdamaian yang tak terbatas oleh waktu dan kondisi, yang akan bersifat abadi selama agama dan manusia masih berampingan di atas bumi.
Kedua sikap di atas (kesalehan agama dan kesalehan sosial) harus terwujud dan diimplementasikan dalam aktivitas kehidupan beragama. Oleh karenanya, sikap fanatisme buta dan pemahaman beragama yang melenceng harus ditinggalkan dan dihindari sejauh mungkin. Upaya memahami agama dengan kehidupan sosial harus diseimbangkan agar keduanya memberikan kontribusi yang baik dalam menciptakan kehidupan yang damai dalam beragama di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar