Bagus Ramadi
(Mahasiswa Magister Hukum Keluarga FSH UIN SU)
Kita tentu menyadari perkembangan
realitas beragama di Indonesia saat ini semakin menunjukkan “persinggungan” antara satu agama dengan agama lain. Apalagi pasca
terjadinya ledakan bom di tiga gereja di Surabaya yang diduga dilakukan satu
keluarga “muslim” dan penangkapan beberapa pelaku terduga teroris, termasuk
yang paling disorot mediayaitu salah satu pimpinan pondok pesantren. Tanpa disadari,
hal ini menunjukkan koherensi antara kedua peristiwa di atas, yang semakin
menebalkan stereotif masyarakat bahwa Islam mengajarkan radikalisme dan
terorisme, dengan dalih beberapa pelaku pengeboman (teroris)dilakukan oleh
orang “Islam” yang ditambah dengan berbagai pemberitaan media yang menyudutkan
Islam. Anggapan salah seperti ini ditakutkan akan menyebar ke dalam sendi
kehidupan masyarakat yang dapat memicu sikap saling curiga sesama penganut
agama danmemunculkan kegaduhan antarumat beragama yang dapat menggerus
perdamaian yang selama ini terawat dengan baik.
Apabila kita telusuri semua ajaran agama,
baik Islam maupun non Islamtidak ada yang mengajarkan sikap permusuhan dan
saling menghancurkan tanpa alasan yang jelas. Dalam Islam, seorang muslim harus
bisa menjadi rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam), memberi
manfaat, menjadi pelindung dan penolong orang lain terutama orang yang sedang
dalam kondisi lemah dan kesulitan. Islam sama sekali tidak mengajarkan
permusuhan, radikalisme dan intoleransi. Justru sebaliknya Islam selalu
mengajarkan menjaga kedamaian, memelihara kerukunan danmendorong sikap saling
mengenal meskipun berbeda suku, agama maupun ras. Sebagaimana Firman Allah Swtdalam
surat al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat: 13)
Dalam ayat tersebut jelas, bahwa Allah Swtmenciptakan manusia dalam
bentuk yang berbeda-beda (baik berbeda bangsa, suku dan ras), dan menghimbau
manusia untuk saling mengenal,berinteraksi, saling bekerja sama untuk
menciptakan perdamaian dan merawat kerukunanantarumat beragama dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu perintah perdamaian ini harus
dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan keimanan kepada Allah Swt Tuhan yang
Maha Esa.
Poin penting yang dapat kita ambil ibrah-nya dari ayat di
atas adalah bahwa manusia secara umum dan masyarakat Indonesia secara khusus
harus memiliki dua sikap luhur yang melekat dalam dirinya yaitu kesalehan
spritual dan kesalehan sosial dan menjadi kunci dalam merawat keberagaman di
Indonesia.
Kesalehan spritual muncul dalam pemahaman agama yang fundamental
Kesalehan spritual dapat kita lihat dari pemahaman terhadap
nilai-nilai agama yang dianutnya secara kaffah, total dan menyeluruh. Pemahaman
seperti ini akan membawa manusia pada aspek kemurnian tauhid yaitu meng-Esakan
Allah Swt yang tercermin dalam aktivitas ibadah yang dilakukan. Karenanya
beragama bukan suatu candaan, diamalkan hanya ketika butuh atau ketika dalam
kesulitan tetapi beragama itu komitmen dengan diri dan Allah Swt sebagai wujud ketaatan
sebagai hamba yang selalu bergantung dengan-Nya. Untuk itu Allah Swt
memerintahkan orang beriman agar secara sadar dan penuh keyakinan untuk masuk
ke dalam Islam secara kaffah. Sebagaimana terdapat dalam firman-Nya
berikut:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam
Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 208).
Dalam ayat tersebut, dapat dipahami bahwa
beragama harus dilakukan secara total, mencakup semua aspek dalam agama. Karena
itu kita tidak bisa memahami dan melaksanakan ajaran agama dengan sesuka hati
tanpa mempelajarinya secara mendalam. Pemahaman, sikap dan tindakan kita harus
sejalan dengan ajaran agama itu sendiri, sehingga tidak akan ada pemahaman yang
menyimpang dari aturan agama yang sesungguhnya dan tidak akan menyalahkan orang
lain yang berbeda pemahaman.
Salah satu bentuk pemahaman seseorang
terhadap agamanya bisa dilihat dari kesesuaian ibadah yang dilakukan dengan
perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman keagamaan yang utuh akan
mendorongnya bertingkah laku sesuai dengan kadar keimanan dan ketaatannya. Selain
itu memunculkan sikap toleransi dan menjalin hubungan baik dengan siapa pun.
Karena implikasi dari hubungan baik dengan Allah (hablum minallah)
adalah menjaga hubungan baik dengan manusia (hablum minannas).
Nilai-nilai agama menjadi modal penting dalam mempererat persatuan
dan kesatuan serta menjalin ukhuwah sesama umat beragama dalam bingkai
bernegara. Karena sejatinya dengan modal pemahaman agama yang benar, kaffah,
komprehensif dan tidak parsial akan mengarahkan pada sikap yang mencerahkan,
mendamaikan dan membebaskan manusia dari sikap kerdil dalam beragama, fanatisme
buta dan menganggap diri dan kelompoknya saja yang paling benar.
Kesalehan Sosial Terbentuk dari Pemahaman Agama yang Baik
Sikap yang paling dianjurkan agama adalah al-ihsan kepada
siapa pun. Islam selalu mengajarkan untuk berbuat baik dan berlaku adil
terhadap sesama, meskipun berbeda agama dan keyakinan. Karena itu, Rasulullah
Saw di utus Allah hadir di muka bumi untuk menjadi tauladan dalam berbuat baik
kepada orang lain tanpa terkecuali. Selama kebaikan itu tidak menjadikan kita
jauh dari agama dan mengingkari adanya Allah Swt.
Islam mengajarkan bahwa orang yang paling baik adalah orang yang
bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Hal ini menjadi dasar bagi setiap
orang untuk senantiasa berbuat baik kepada siapa pun agar dapat menebar
kemanfaatan. Untuk itu tidak boleh ada permusuhan dan konflik yang
mengatasnamakan agama dan keyakinan tertentu, karena pada dasarnya tidak ada
agama yang mengajarkan permusuhan dan konflik dalam kehidupan manusia. Untuk
itu perlunya setiap orang memiliki sikap yang baik terhadap sesama agar
mengasah kesalehan sosial dalam diri setiap umat beragama.
Kesalehan sosial ini akan muncul dari orang-orang yang berpaham
agama yang baik, karena pada dasarnya agama hadir di dunia sebagai pengontrol
hubungan manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan sesamanya. Tidak ada agama
yang lahir dengan motif untuk memecah belah umat manusia agar saling bermusuhan
dan saling menebar kebencian. Justru sebaliknya, agama hadir untuk mengatur
tatanan hidup umat manusia agar saling berinteraksi dan bekerjasama antara satu
dengan yang lain dalam mewujudkan tata kelola kehidupan yang damai dan harmonis
dalam bingkai bernegara.
Oleh karenanya, kesalehan sosial harus ditanamkan dan diwujudkan
dalam perilaku sehari-hari dan diajarkan kepada anak-anak sebagai generasi mendatang
yang akan merawat perdamaian dalam bernegara. Perdamaian yang tak terbatas oleh
waktu dan kondisi, yang akan bersifat abadi selama agama dan manusia masih
berampingan di atas bumi.
Kedua sikap di atas (kesalehan agama dan kesalehan sosial) harus
terwujud dan diimplementasikan dalam aktivitas kehidupan beragama. Oleh
karenanya, sikap fanatisme buta dan pemahaman beragama yang melenceng harus
ditinggalkan dan dihindari sejauh mungkin. Upaya memahami agama dengan
kehidupan sosial harus diseimbangkan agar keduanya memberikan kontribusi yang
baik dalam menciptakan kehidupan yang damai dalam beragama di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar